sacikeas
Berita

<< kembali

Sekelumit Cerita dari Kandang Kami
Wednesday, 09 June 2010 18:58


Siang itu cuaca cukup cerah, bahkan cenderung terik. Setelah pagi harinya mengisi kelas TKB, dengan aktivitas Greenlab yang cukup menguras tenaga dan setelahnya ikut menemani rombongan duta lingkungan PT. Freeport berkeliling sekolah, aku sebenarnya tidak mengharap kejutan apapun lagi. Hanya berharap mengisi sisa waktu dengan menyelesaikan beberapa tugas.
Namun dipukul 13.44 WIB sebuah sms singkat dari bu Kunti masuk,“Sapi lahir ya bu..baru aja. Alhamdulillah”. Saat itu aku sedang berada di saung playgroup yang berada disisi Barat laut Sekolah Alam Cikeas (SAC), sementara bu Kunti berada di Function room yang berada disisi Utara SAC, sedangkan kandang sapi berada disisi Tenggara SAC.
Secepat setelah membaca sms, tanpa sempat membalasnya, aku segera berlari keluar saung kelas dan memakai sepatu bootku, lalu berlari mengitari saung-saung kelas lain dengan satu tujuan, menuju kandang. Sembari berlari, ternyata aku melewati beberapa kelas yang sedang bersiap pulang. Demi melihat aku yang berlari-lari, anak-anak tersebut bertanya, “Bu Yuni mau kemana? ”  Dan akupun menjawab singkat, tanpa memperlambat lariku, “Anak sapinya sudah lahir”. “Wah, dimana bu?” seru beberapa anak itu. “Ada di kandaaaang, ibu pergi dulu yaaa, ” seruku sambil meninggalkan mereka.
Ternyata dibelakangku, anak-anak itu hendak ikut berlari menyusulku. Akan tetapi guru-guru kelasnya dengan sigap menahan dan memberi tahu, bahwa mereka harus menemui para penjemput-penjemputnya dan meminta ijin kalau hendak melihat sapi. Karena saat itu memang sudah waktunya pulang.  Dengan patuh mereka menuruti perintah guru kelasnya. Mereka tidak jadi mengikutiku.
Sementara aku telah sampai di muka kandang. Tetapi kandang terlihat kosong hanya ada pak Ano, perawat ternak kami, sedang membuat sesuatu. “Pak, benar anak sapinya sudah lahir? ” tanyaku dan pak Ano pun mengangguk. “Dimana pak,” tanyaku lagi. “Di belakang sana,” jawab pak Ano sambil menunjuk ke arah kebon belakang. “Di bawah pohon bambu Bu,” jelasnya lagi.
Bergegas, aku melompati tanah dan berlari diatas serasah daun-daun kering menuju tempat yang ditunjuk. Dan itu dia, dibawah kerindangan rumpun bambu, sang induk sapi berkulit coklat sedang menjilati anaknya yang sedang terduduk. Sang anak sapi berwarna coklat, dan terlihat basah. Tampak lendir memenuhi seluruh tubuhnya.
Baru 5 menit aku mengamati ibu dan anak itu sendirian, dari kejauhan tampak langkah-langkah kaki dan suara-suara mendekati tempat kami. Ternyata anak-anak itu datang, dan lebih banyak dari yang kukira akan datang. Rupanya kabar sapi kami yang beranak telah menyebar. Langkah-langkah itu makin dekat, dan itu dia anak-anak itu.
Tetapi kedatangan mereka yang bersemangat langsung kuwaspadai. Sen gaja aku berjalan mendekati arah kedatangan mereka, dan begitu anak-anak itu terlihat, langsung saja, “Stooop…jalannya perlahan-lahan dan tidak perlu berteriak-teriak, nanti sapinya stress,” seruku. Dan anak terdepan, langsung saja memelankan langkahnya. Sementara yang lain secara otomatis  mengingatkan teman-temannya dibelakang.
Lucu sekali mereka. Yang tadinya datang sambil berlari-lari, tiba-tiba kompak berjalan perlahan-lahan berusaha tidak menimbulkan suara dan jikapun berbicara, mereka berbisik! Padahal induk sapi dan anaknya itu masih agak jauh. Ketika sampai, mereka kuminta untuk berdiri dalam posisi 1.5 meter dari induk sapi dan anaknya. Berusaha memberi ruang kepada kedua binatang yang masih lemah itu, dan mencegah mereka stress karena didatangi oleh banyak orang. Sementara anak-anak, beberapa guru, orang tua murid, dan supir terus berdatangan hendak melihat bintang kami hari ini, Alhamdulillah induk sapi dan anaknya tidak merasa terganggu.
Dan akhirnya, disitulah kami semua. Mengelilingi induk sapi dan anaknya. Melihat, mengamati dan menikmati pemandangan yang tersaji, ketika induk sapi dengan sayangnya terus menjilati tubuh anaknya. Menyaksikan sisa tali ari-ari yang masih terjuntai keluar dari anus sang induk sapi, dan juga menyaksikan aksi induk sapi ketika memakan sisa tali pusar diperut anaknya. Semua kejadian itu membangkitkan antusiasme anak-anak. Serentetan pertanyaan keluar dari mulut-mulut mereka.
“Ibu melihat gak, waktu sapinya beranak?” tanya seorang anak yang kujawab dengan gelengan. “
Itu apa sih, yang menggantung keluar dari pantat sapinya Bu?” tanya beberapa anak.
“Oh, itu sisa ari-arinya. Ari-ari itu dihubungkan dengan tali pusar, yang ada diperut anaknya. Tuh lihat, sama induk sapi tali pusarnya diputuskan dengan digigit lalu dimakan. Sewaktu anaknya masih didalam perut, anak sapinya itu makannya melalui tali pusar. Karena sudah dilahirkan, maka tali pusarnya itu tidak diperlukan lagi. Bayi manusia juga punya tali pusar, dan ketika lahir tali pusarnya juga dipotong. Nah dipotongnya itu oleh dokter atau bidan,” terangku.
“Kenapa sih ibunya jilat-jilat badan anaknya?” tanya anak yang lain.
“Karena hendak dibersihkan. Ibunya sedang memandikan anaknya. Lihat deh, banyak lalat yang hinggap diperut anak sapinya. Karena perutnya masih basah oleh lendir. Sedangkan kepalanya yang sudah dijilat oleh ibunya, sudah kering, sehingga tidak dihinggapi oleh lalat,” jawabku.
“Ibu, sapinya menangis ya?” tunjuk seorang anak kearah mata induk sapi. Dan memang terlihat ada garis air mata disana. Ya Allah, apakah sapi ini menangis ketika sedang beranak, pikirku.
“Mungkin, dia merasa kesakitan ketika mengeluarkan anaknya. Kalian lihat tuh, anaknya besar sementara lubang tempat keluarnya kan jauh lebih kecil. MasyaAllah”.

Kemudian, induk sapi pergi merumput setelah beberapa lama menjilati anaknya. Rupanya dia lapar. Melihat sapi yang lapar, anak-anak berinisiatif untuk memberinya makan. Lalu kami mengambil beberapa tangkai daun bambu untuk diberikan kepada sang induk sapi. MasyaAllah, lahap sekali sapi itu memakan daun-daun yang kami berikan. Sambil mengambili helai-helai daum bambu dari batangnya dan memberikannya kepada sang induk yang menunggu. Anak-anak bertanya,
“Siapa nama anak sapinya Bu?”
“Wah, belum dikasih nama tuh,” jawabku.
“Dikasih nama Zepi aja Bu,” usul seorang anak.
“Atau dinamai Moki aja Bu,” usul yang lain.
“Bisa juga Miny mouse,” cetus seseorang.
“Lhooo, itu kan nama tikus,” sanggahku dan sang anak yang bertanya hanya tersenyum.
“Dinamain Mogi aja deh,” usul baru lagi.
Hmmm kenapa usulannya dari berawalan M semua ya ? pikirku dalam hati. “Usulannya ditampung dulu ya, nanti kita putuskan,” jawabku sembari berfikir, cara terbaik apa yang adil untuk memberi nama anak sapi ini. Mungkin bisa berupa pengambilan suara terbanyak, atau apalah. Aku akan mengurusnya nanti.

Sudah 1/2 jam lewat kami disini. Sebagian besar anak, guru, dan para penjemput sudah pergi. Aku dan beberapa anak, masih bertahan menemani kedua sapi ini. Kami ingin melihat proses sang anak sapi berdiri untuk pertama kali. Tadi, sempat sang anak sapi bergoyang-goyang hendak berdiri. Kakinya terlihat ringkih. Sang induk tampak menyemangati dengan berusaha mendorong-dorong tubuh sang anak, agar terus berdiri. Sementara murid-muridkupun ikut memberi semangat dengan bertepuk tangan dan berseru : “Ayo, ayo, ayo…..” Dan ketika baru 5 detik anak sapi itu berdiri untuk kemudian jatuh, anak-anakpun berseru kecewa, “ Yaaaaaa”.
Baru sekitar 1/2 jam kemudian anak sapi itu berdiri diusahanya yang kedua. Saat itu, hanya tinggal aku, dan kedua muridku yang tetap bertahan berada disitu. Amazing sekali menyaksikan proses tersebut, terutama bagi kami, manusia-manusia perkotaan. Walau menit-menit awal, kakinya yang ringkih terlihat gemetar, sang anak sapi tetap bertahan. Setelah mulai terbiasa, segera saja ia tampak ingin menyusu. Subhanallah, dengan sendirinya anak sapi tersebut menyundul-nyundul tubuh induknya.
Walau ia tahu apa yang diinginkannya, tetapi ia belum tahu dimana tepatnya ia harus menyusu. Maka kami menyaksikan beberapa kali, bayi sapi itu menyundul-nyundul kaki, leher, dan perut samping induknya. Beberapa kali, anak sapi itu memutari tubuh induknya. Sekali, ia hampir menemukan letak puting-puting susu induknya, namun sang induk menghindar. Lalu proses itupun terganggu oleh kedatangan sapi lain. Ada sapi muda yang tampaknya tertarik dengan kehadiran anggota baru. Sapi muda itu mendekat dan menciumi sang bayi sapi. Tindakan sang sapi muda membangkitkan jiwa protektif sang induk. Sang induk berusaha menghalangi sapi muda itu dari anaknya, namun sapi muda itu tampak tidak peduli.
Akhirnya kuambil tali kekang sapi muda dan mengajaknya menjauh. Baru saja kutinggal di ujung kebun, tak lama sapi muda itu datang kembali dan mengganggu proses inisiasi dini bayi sapi. Hmmm tidak bisa dibiarkan nih. Akhirnya, aku ambil lagi tali kekang sapi muda tersebut, dan kali ini tali tersebut aku tambatkan disebuah pohon yang agak jauh. Dan ketika aku pergi, mata sapi muda itu menatapku sendu.
Nah, kali ini tidak ada yang mengganggu lagi, dan anak sapinya kembali berusaha mencari puting susu induknya. Tetapi sang induk kembali menghindar ketika anaknya sudah hampir menemukan puting susunya. Hal ini mengingatkanku kepada sapi lain yang beranak ditahun lalu. Sapi itu baru pertama kali beranak, dan dia tidak mau menyusui anaknya. Sehingga pak Ano, harus memegangi induk sapi tersebut dan membimbing anaknya agar bisa menyusu.
Sedangkan sapi yang ini juga baru pertama kali beranak, dan mungkin juga kasusnya sama. Mungkin induk sapi inipun perlu diajari caranya menyusui anaknya, pikirku. Akhirnya aku mengambil tali kekang sang induk dan menambatkannya, agar dia tidak pergi-pergi. Lalu aku merangkul kepala bayi sapi itu dan membimbing mulutnya kearah puting. Dan Alhamdulillah, bayi sapi itu langsung menyusu dengan rakus, hingga terdengar geleguk-geleguk suaranya ketika menelan susu. Sungguh suara yang menyenangkan. Dan yang juga menggembirakan, ketika anaknya sudak mulai menyusu, sang induk tidak berusaha menghindar lagi.
Tak terasa haripun menjelang sore. Saatnya pulang. Akhirnya kami b
ertiga meninggalkan kebun, setelah puas menyaksikan anak sapi itu menyusu dengan induknya. **
H+1.
Saat itu masih pagi. Kelas belum lagi dimulai, namun ada yang menarik perhatianku. Anak-anak tampak berkumpul di sudut lapangan. Ternyata disitu ada pak Ano yang sedang memberi makan induk sapinya, tak tak jauh di sebelahnya ada si bayi coklat itu.
Lalu pak Ano membawa kembali induk sapi  dan anaknya ke kebun belakang. Ketika aku mengikuti dibelakangnya, tampak dari arah berlawanan ada anak-anak yang memanggil-manggil, “Yuni.. Yuni..Yuni..”
Karena merasa aneh, aku bertanya keanak-anak tersebut, “Kalian memanggil siapa?” “Ini bu Yuni, kita panggil anak sapinya,” jawab anak-anak tersebut sambil berlari ke kelas masing-masing.
Aku masih bingung, namun kutunda saja pertanyaan-pertanyaan yang tiba-tiba muncul di kepalaku.
Ketika sedang menemani anak-anak Playgroup mengunjungi anggota keluarga SAC yang baru, terlihat sang induk sedang merumput, dan sang anak sedang merebahkan tubuhnya di bawah pohon Jati yang dahannya tergantung rendah. Beberapa anak Playgroup terlihat antusias melihat ada bayi sapi di bawah dahan Jati dan mencoba mendekatinya. Melihat anaknya di dekati, sang induk yang sedang merumput segera menghampiri, dan “Whuaaaaaa…..” anak-anak Playgroup pun berlarian menjauh.
Lalu bayi sapi itu bangun dan menghampiri induknya. Saat ini, sang bayi sapi sudah lancar menyusui sendiri. Anak-anak Playgroup dan beberapa anak SD ikut menyaksikan. “Susunya seperti apa ya Bu? Aku mau dong,” seru seorang anak. Dan ia membawakan aku gelas plastik kosong, serta meminta sedikit susu sapi.
Sebenarnya sapi ini ini bukan sapi perah, namun karena sedang memiliki bayi, maka kantong susunya tampak penuh. Kemarin, sebelum mengajari bayi sapi itu untuk menyusu kepada induknya. Aku sempat memerahnya sebentar, dan sedikit susu keluar.
Permintaan anak SD ini sebenarnya bisa kutolak, namun aku sendiri juga penasaran. Akhirnya kuiyakan permintaan itu. “Nanti, tolong bawain ke kelas ya buuuu,” seru anak itu sambil berlari kembali ke kelasnya.
Setelah mengantarkan kembali, anak-anak Playgroup ke kelasnya, aku kembali ke kebun. Disana, sang induk terlihat kembali merumput. Segera aku mendekatinya perlahan dan berusaha memerah putingnya perlahan. Susunya baru keluar sedikit, namun induk sapi tersebut berjalan pergi. Ia tidak merasa nyaman, ketika kuperah. Kakinya berulang kali disenggolkan untuk memintaku pergi. Akhirnya setelah beberapa kali mencoba, hasil panen susu sapinya hanya terkumpul sedikit saja. Tak apalah, ini nanti bisa dilihat sebagai sampel. Walau sebenarnya anak itu mengharapkan untuk bisa meminumnya.
**
Akhirnya ada kesempatan untuk menanyakan hal yang masih membingungkanku. Perihal nama anak sapi itu.
“Bu Yuni tahu siapa nama anak sapinya? ” tanya pak Yusri.

“Enggak pak, memang siapa,” jawabku datar. Walau sebenarnya sudah tahu.
“Kan, begini ya bu. Tahun lalu sapi kita juga lahir di bulan Juni, tetapi yang dulu itu jantan. Nah dinamainlah Joni. Kalau tahun inikan betina, dan lahirnya juga di bulan Juni. Jadi namanya ya Yuni,” lanjut pak Yusri.
“Hmmm, memang siapa yang memberi nama Yuni? ” tanyaku berusaha mengorek informasi.
“Pak Ano,” jawab pak Yusri singkat.

Dan aku hanya bisa melongo kaget. Pak Ano ? Lho, kok bisa ? Selama ini aku hanya berhubungan dengan pak Ano, jika hendak meminta tolong hal-hal yang berhubungan dengan ternak sekolah. Dan selama itu, pak Ano biasanya hanya bicara secukupnya saja. Beliau bahkan tak pernah mencoba bercanda, atau bercerita apapun dengan panjang lebar. Pak Ano tipe pekerja keras yang sederhana. Dan yang unik, pak Ano tidak hafal nama semua guru, hanya beberapa guru saja. Dia hafal denganku, itupun karena aku sering berkunjung ke kandang.
**
Senin siang di dapur sekolah.
“Pak, memang benar nama anak sapinya itu Yuni ?” tanyaku pada pak Ano.
“Iya,” jawab pak Ano singkat.
“Kenapa pak?” tanyaku lagi.
“Kan lahirnya di bulan Juni dan anak sapinya juga perempuan Bu,” jawab pak Ano.
Lalu aku ke gudang yang berada diruang sebelah. Dan dari gudang, tiba-tiba aku mendengar suara tertawa kecil dari dapur. Eh pak Ano sedang tertawa. Dia dengan caranya sendiri telah bercanda denganku.
Hehehe tak apalah, jika anak-anak itu memanggil bayi sapi dengan namaku. Anggap saja sebagai hadiah ulang tahun. Tidak setiap orang bisa mengalami ini kan. Yunieza ( 08 Juni 2010)

Contoh worksheet siswa:



<< kembali

berita terbaru

  • Ramadhan Camp
  • Kunjungan Kelompok Belajar Anak WVI
  • SAC kembali berprestasi di tari tradisional
  • Penampilan Perdana Drum Band Sekolah Alam Cikeas
  • arsip

  • Agustus (10)
  • Juni (7)
  • Mei (10)
  • April (19)
  • Maret (5)
  • Februari (11)
  • Januari (7)
  • Desember (8)
  • November (13)
  • Oktober (4)
  • September (2)
  • Juli (1)


  • Menabung sampah
    Video @ youtube

    Sacikeas 's Public Gallery
    >>Visit at http://picasaweb.google.com/sacikeas>>

    Cikeas Saturday Market
    Kunjungi Cikeas Satuday Market (Sogo Jongkok) di Sekolah Alam Cikeas setiap hari Sabtu pagi jam 07-11. Sekolah Alam Cikeas ingin berbagi dengan warga Cibubur, Cileungsi dan Gunung Putri, sehingga dapat menjadi tujuan rekreasi, belanja dan olah raga bagi seluruh keluarga. Pengunjung bisa menggunakan lapangan futsal, basket, outbound dan playground.

    Bazaar Sahabat Alam, 10 Agustus 2011
    Bersamaan dengan digelarnya Ramadhan Camp 2012, Sekolah Alam Cikeas mengadakan Bazaar Sahabat Alam pada hari :

    Jumat 10 Agustus 2011 pada pukul 07.00 sampai selesai.

    kegiatan ini ditujukan untuk warga sekitar sekolah agar dapat membeli beragam pakaian layak pakai dengan harga terjangkau dan pelayanan kesehatan gratis dari Rumah Sehat Cikeas.